Studi Komparasi Emisi Gas Buang pada Kendaraan Bermotor Honda Beat Street dan Yamaha Mio M3 125 Tahun 2023
DOI:
https://doi.org/10.47355/cdpzjx10Keywords:
Emisi gas buang, Uji emisi, Kendaraan bermotor, Karbon dioksida, Karbon monoksidaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi bahan bakar terhadap emisi gas buang pada dua jenis motor, Honda Beat Street dan Yamaha Mio M3 125 produksi tahun 2023, dengan menggunakan bahan bakar RON 92, RON 95, dan RON 98. Parameter yang diuji meliputi Karbon Monoksida (CO), Hidrokarbon (HC), Karbon Dioksida (CO₂), dan Nitrogen Oksida (NO2). Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan angka oktan pada bahan bakar (dari RON 92 ke RON 98) menghasilkan penurunan yang signifikan pada emisi CO, HC, dan NO2. Sebagai contoh, pada Honda Beat Street, emisi CO berkurang dari 0.4 g/km (dengan RON 92) menjadi 0.32 g/km (dengan RON 98), dan emisi HC menurun dari 60 mg/km menjadi 50 mg/km. Begitu pula pada Yamaha Mio M3 125, emisi CO berkurang dari 0.38 g/km (dengan RON 92) menjadi 0.30 g/km (dengan RON 98), sementara HC turun dari 58 mg/km menjadi 50 mg/km. Meskipun perbedaan pada CO₂ tidak terlalu besar, yaitu penurunan dari 47 g/km menjadi 42 g/km pada Honda Beat Street dan dari 48 g/km menjadi 44 g/km pada Yamaha Mio M3 125, efisiensi pembakaran yang lebih baik tetap berperan penting dalam mengurangi total konsumsi bahan bakar dan dampaknya terhadap lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi tidak hanya mengurangi emisi berbahaya seperti CO, HC, dan NO2, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kinerja mesin dan efisiensi bahan bakar. Dengan demikian, hasil penelitian menegaskan bahwa penggunaan bahan bakar dengan kualitas dan angka oktan yang lebih tinggi berperan penting dalam mendukung kendaraan yang lebih ramah lingkungan serta menjaga kinerja mesin dalam jangka panjang. Meskipun emisi CO₂ tidak mengalami perbedaan yang signifikan antar jenis bahan bakar, efisiensi proses pembakaran dan pola berkendara tetap menjadi faktor penentu terhadap dampak lingkungan secara keseluruhan